Kisah Nabi Ayyub AS (alaihis salam)
Siapakah Nabi Ayyub as ?
Kisah Nabi Ayyub as
Kekuranagan harta benda, menderita sakit yang berkepanjangan, dan bahkan kehilangan nyawa anak-anak beliau, semua itu tidak dapat meruntuhkan benteng keimanan Nabi Ayub as(alaihis salam). Justru sebaliknya, semua itu semakin menambah rasa cinta dan ketaatan beliau kepada Allah SWT. Beliau senantiasa beribadah kepada Allah SWT, dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan dalam keadaan kaya maupun miskin.
Di negeri tempatnya berpijak beliau dan keluarganya dikenal sebagai orang yang kaya-raya lagi dermawan. Harta yang melimpah ruah, rumah dan gedung-gedung indah yang dimilikinya, perhiasan emas dan perak, serta tanaman dan hasil bumi yang dihasilkannya, tidak menjadikan beliau sombong dan angkuh. Justru beliau dan keluarga (istri dan anak-anaknya) selalu membantu orang-orang fakir yang miskin, anak-anak yatim, dan janda-janda tua yang hidupnya serba kekurangan.
Oleh karena itu, tidak ada satu orang pun dari penduduk setempat yang meminta bantuan kepada keluarga Nabi Ayub, pulang dengan tangan hampa. Tidak heran, apabila seluruh orang memuji atas kebaikkan dan kedermawanan beliau. Sanjungan tersebut tidak hanya datang dari golongan manusia, bahkan para malaikat pun turut memuji amal saleh yang dilakukan oleh Nabi Ayyub as.
Cobaan Yang Dialami Oleh Nabi Ayyub as
Nabi Ayyub dikenal sebagai nabi yang sangat kuat keimananya. Iblis merasa cemburu dan sakit hati mendengar pujian malaikat terhadap kekuatan iman Nabi Ayyub. Iblis merayu Nabi Ayyub agar meninggalkan perintah Allah .Namun, hal itu tidak berhasil.
Iblis menemui Allah dan berkata, “Tuhan, Ayyub itu sebenarnya tidak ikhlas sujud kepada-Mu. Dia hanya menginginkan nikmat kekayaan dan anak sebagai pewarisnya.” Allah ingin membuktikan bahwa Nabi Ayyub memang seorang yang beriman, sabar, dan tabah dalam menghadapi segala ujian. Kemudian, Allah memberikan izin kepada iblis untuk menghasut Ayyub agar lalai beribadah.
Iblis memusnahkan seluruh harta benda Nabi Ayyub. Nabi Ayyub pun menjadi bangkrut. Kemudian iblis merobohkan rumah Nabi Ayyub. Seluruh anak-anak Nabi Ayyub yang berada di dalam rumah meninggal. Kemudian, iblis menyamar sebagai seorang lelaki. Iblis itu berkata kepada Nabi Ayyub. “Tiada berguna engkau rajin beribadah karena Allah Yang Maha Kuasa itu pun tidak mau menyelematkanmu.” Nabi Ayyub menjawab, “Wahai iblis, semua yang aku miliki selama ini adalah pinjaman dari Allah saja. Kini sudah tiba saatnya Allah mengambilnya. Hanya Allah yang berkuasa atas segala-galanya.”
Iblis sangat marah, dia menemui Allah lagi dan menyatakan kekecewaannya. Untuk ketiga kalinya, Allah memberikan izin kepada iblis untuk mengganggu kesehatan Nabi Ayub. Iblis memasukkan sesuatu penyakit yang tidak ada obatnya ke dalam tubuh Nabi Ayyub. Nabi Ayyub menahan rasa sakit selama bertahun-tahun. Namun, segala rasa sakit tidak menghalangi ibadah Nabi Ayyub.
Penyakit Nabi Ayyub semakin lama semakin parah. Sekalipun demikian, Nabi Ayyub tetap tabah dan menerimanya sebagai cobaan dari Allah SWT. Keimanan yang dimilikinya kepada Allah SWT tidak berkurang sedikitpun, justru beliau semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Iblis sangat kecewa dan tidak puas dengan ketabahan Nabi ayub. Dengan demikin usaha iblis menjadi sia-sia.
Kesembuhan Nabi Ayyub as
Penyakit Nabi Ayyub sangat parah sehingga ia hanya dapat berbaring. Semakin lama kondisinya semakin memburuk. Penyakit ini ia derita sudah 18 tahun.
Masyarakat di sekitarnya melupakan kedermawanan Nabi Ayyub. Selama beliau sakit, seluruh penduduk disekitarnya mengasingkan dirinya. Hanya istrinya yang mengurus segala keperluan Nabi Ayyub. Namun, iblis selalu menghasut istri Nabi Ayyub yang bernama Rahmah. Iblis membisikkan kebencian ke dalam hati istri Nabi Ayyub. Pada suatu hari, istri Nabi Ayub mengatakan hal-hal yang menyakiti Nabi Ayyub. Nabi Ayyub pun sangat sedih. Ia bersumpah apabila ia sembuh kelak, ia akan memukul istrinya sebanyak 100 kali.
Pada saat kondisi Nabi Ayyub semakin lemah, Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Hentakanlah kakimu sehingga muncul air yang sejuk untuk mandi dan minum.”
Nabi Ayyub menghentakan kakinya ke tanah sehingga air keluar. Air tersebut digunakan untuk mandi dan minum Nabi Ayyub. Tidak lama kemudian, tubuh Nabi Ayyub kembali sehat. Bahkan. Ia lebih sehat dan kuat dibanding sebelumnya.
Setelah sembuh, istri Nabi Ayyub kembali kepada suaminya Nabi Ayub teringat dengan sumpahnya. Namun, ia tidak sampai hati memukul istrinya. Oleh karena itu, ia tidak dapat memenuhi sumpahnya. Setelah itu, turunlah perintah Allah agar Nabi Ayub melaksanakan sumpahnya. Ia diperintah memukul istrinya menggunakan 100 helai rumput yang diikat.
Kisah Nabi Ayyub ini telah diceritakan dalam Al-Quran Surat Shaad ayat 41-44 yang artinya,
“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan” (Allah berfirman). “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), setelah itu pukullah dengan ikatan rumput itu kepada istrimu agar kamu tidak melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)”
Kesabaran Nabi Ayyub dapat dijadikan contoh bagi kita. Sebaiknya kita tidak cepat mengeluh pada saat menghadapi kesusahan dan hidup. Mengahrgai segala sesuatu pemberian Allah dan jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur dan berdo'a.Semoga kita termasuk kedalam hamba yang taat! Amin Ya Robbal Alamin.

Komentar
Posting Komentar